Meenakshi Sundareshwar: Representasi Perempuan dalam Film India (SPOILER ALERT!)
| Sumber: Wikipedia |
Saya akui bahwa saya bukanlah penggemar film India. Membayangkan adegan menari di bawah rinai hujan untuk menambah kesan syahdu, sungguh bukan tipikal film favorit saya. Namun suatu waktu, adegan dialog antara pemeran utamanya yang muncul ketika saya membuka akun Netflix di iPad saya akhirnya membuat saya akhirnya memutuskan, "kyaknya boleh juga deh".
Dialog antara Meenakshi (calon istri) dan Sundareshwar (calon suami) ketika perkenalan di masa perjodohan sungguh menarik jari untuk mengklik "play". Dialognya kira-kira begini:
Meenakshi: Kenapa kami harus mempertimbangkanmu menjadi suami?
Sundareshwar: Karena saya seorang insinyur dan insinyur adalah suami terbaik, Bu
Meenakshi: Kenapa?
Sundareshwar : Karena kami tidak mudah menyerah, kami akan selalu berusaha menemukan solusi baik untuk pekerjaan ataupun relationship.
Wuiiih, beruntung juga gue punya laki backgroundnya anak teknik yak?!
Film ini berhasil membuat saya bernostalgia mengenai masa muda saya ketika baru menikah dulu. Masa adaptasi. Masa awal menghadapi konflik. Masa muda yang naif. Masa ketika kepala masih penuh ekspektasi tentang pernikahan yang ideal karena too much nonton film drama romantis. Padahal kehidupan pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, apalagi dengan film yang pasti didramatisasi.
Balik ke pembahasan film, Sanya Malhotra sebagai Meenakshi dan Abhimanyu Dassani sebagai Sundareshwar. Namun terlihat bahwa Sundareshwar-lah tokoh utamanya, karena ia berperan sebagai narator film meski banyak menggunakan istilah "kami" untuk menceritakan pernikahannya dengan Meenakshi. Di awal film Sundareshwar sebagai narator menjelaskan kepada penonton, terutama penonton seperti saya yang awam dengan budaya India dan agama Hindu di India. Ternyata Sundareshwar adalah nama lain dari Dewa Siwa dan Meenakshi adalah permaisurinya. Namun meskipun Sundareshwar merupakan tokoh utama, saya tetap merasa sosok perempuan pada Meenakshi juga terepresentasi dengan seimbang. Kenapa? baik akan saya uraikan alasan saya
- Judul film ini lebih duluan menggunakan nama Meenakshi, alih - alih Sundareshwar. Buat saya, ini krusial. Setara dengan film Anna and the King of Siam. Coba bandingkan dengan judul film Romeo-Juliet atau Habibie-Ainun, peran perempuannya ya terasa hanya pendukung saja.
- Film ini bersetting lokasi di kuil Meenakshi. Kuil Meenakshi merupakan salah satu kuil legenda di India bahkan sempat didaftarkan sebagai keajaiban dunia terbaru meski kalah dan tidak terpilih. Saya menganggap istimewa karena Kuil Meenakshi yang berwarna warni ini dibangun oleh untuk pemujaan Dewi Meenakshi. Kuil ini menjadi istimewa karena biasanya kuil dibuat untuk para dewa, namun Kuil Meenakshi dibangun untuk Dewi, seorang perempuan.
- Sosok Meenakshi di film ini sebagai perempuan yang hangat dan pintar. Terlihat dia disukai banyak orang, cepat bergaul dengan lingkungannya. Ketika canggung berkenalan dengan Sundareshwar, ia langsung berinisiatif ber-role play sebagai bos dan calon pegawai yang akan diwawancarai dalam sesi seleksi pegawai. Ketika melamar kerjapun, ia juga langsung mendapatkannya. Berbeda dengan Sundareshwar yang masih "numpang hidup" dengan keluarganya. Ketika ia masuk ke kantor Sundareshwar yang ketat pengamannya. Ketika ia bisa membaca situasi, meski kaget suaminya ternyata having fun, Meenakshi tetap bisa kontrol emosi dan mengatakan bahwa ia hanya sepupunya Sundareshwar. Coba kalo gue, wah suami bohong langsung hajar di tempat aja dah. Oh ya, satu lagi ada satu prinsip pekerjaan Meenakshi yang asyik banget, dia bilang "lebih baik aku membantu firma kecil dan membuat perubahan besar, dibanding bekerja di firma besar namun tidak mengubah apapun". Wah keren banget, passionnya ketika bekerja adalah untuk membantu tempat ia bekerja.
- Meenakshi bebas mengekspresikan dirinya. Dia tidak malu untuk menari, berteriak dan bernyanyi bahkan di tempat umum. Ia menyukai aktor favoritnya dan bebas menikmatinya bersama dengan penonton lainnya. Ia bisa bebas meniru aktor favoritnya bahkan di rumah makan. Ia bisa dengan santainya mengutarakan perasaan marahnya dan keputusasaanya kepada suami dan keluarga suaminya. Gak semua perempuan bisa begitu, jika adapun wah saya angkat topi untuk mereka.
- Terakhir, Meenakshi tetaplah seorang istri yang cinta suami. Meskipun ia pintar, cantik, hangat, dan ceria bahkan sempat diabaikan, dimarahi, dan dicurigai tidak setia namun Meenakshi tetaplah mempunyai hati yang luas dan lapang untuk suaminya. Ketika suaminya berusaha menjelaskan runut sebab-akibat, Meenakshi cukup memberikan kecupan lalu everything’s fine. Magic lah.
So far, yes I have low expectation dengan film India apalagi kalo menyangkut tentang perempuan. Saya boleh dikatakan sebagai korban stereotype bahwa India bukanlah negara yang ramah terhadap perempuan karna banyaknya berita tentang korban perkosaan dan bagaimana hukum di negara tersebut tidak pernah memihak korbannya. Tapi dengan adanya film ini dan film Mimi yang dirilis bulan Agustus lalu, setidaknya ada perspektif berbeda bagaimana perempuan ditampilkan dalam media filmnya.
Comments
Post a Comment